KangJalal curhat tentang kekecewaannya kepada Gus Dur. Seperti biasa, Presiden ke-4 RI itu hanya tertawa. Bukannya mengajak kembali ke NU, tapi justru merekomendasikan putra Kang
KetuaMajelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Syamsul Anwar angkat bicara tentang yang pertama kali menggunakan hisab sebagai metode penentuan awal bulan Qomariah adalah orang Syiah Rafidlah. Kabar itu beredar dalam video ceramah seorang dai yang menyebut didapatkan berdasarkan uraian dalam kitab Fath al-Bari bi Syarh Shahih Al-Bukhari
Dirinyapercaya Gus Yaqut bisa memainkan peran seperti yang dilakukan Gus Dur. Akan tetapi tidak boleh kaku serta diperlukan komunikasi yang baik dengan semua pihak. “Bagaimana pun dalam berpolitik itu diperlukan komunikasi yang elegan, etis, menghargai dan persuasif,” ungkapnya.
YAPIBangil. Yayasan Pesantren Islam (YAPI) Bangil merupakan sebuah pesantren di Bangil, Kabupaten Pasuruan yang didirikan pada 21 Juni 1976 oleh Ustaz Husein Al-Habsyi. [1] Pondok pesantren ini terdiri atas dua lembaga, yakni pesantren putri yang terletak di Bangil dan pesantren putra yang terletak di Kenep.
GusDur juga selalu mengatakan bahwa Syiah itu adalah NU plus imamah dan NU itu adalah Syiah minus imamah. Bahkan beliau orang yang pertama di Indonesia yang bukan Syiah yang menggelar peringatan Asyura di Ciganjur,”
KangJalal pun akhirnya “curhat” tentang kekecewaannya itu kepada Gus Dur. Seperti biasa, Presiden ke-4 RI itu hanya tertawa. Bukannya mengajak kembali ke NU, tapi justru
. Gus Dur Syiah adalah NU Plus Imamah’ Menurut budayawan Koentjoroningrat, terdapat tiga lapisan kebudayaan, yaitu ideofak, sosiofak, dan artefak. Tradisi dan budaya keagamaan memiliki tiga level/lapisan. Level terluar disebut artefak berupa simbol-simbol; level tengah disebut sosiofak berupa amalan ritus; dan level terdalam disebut ideofak berupa ide dan nilai dasar yang melandasi kedua lapisan lainnya. Ideofak adalah makna dan pesan inti dari tradisi dan budaya keagamaan. “Gus Dur pernah menyatakan bahwa NU adalah Syiah kultural. Gus Dur melihat ini dari kacamata kultural, bahwa tradisi-tradisi yang dijalankan orang NU sebagian mengindikasikan adanya pengaruh Syiah.” Agus Sunyoto, Baca juga Syahadat Syiah Berbeda dengan Ahlusunah? Apa yang dinyatakan Gus Dur merupakan refleksi beliau untuk mengungkap lapisan ideofak yaitu sistem makna yang tersembunyi di balik berbagai tradisi yag dijalankan oleh NU. Gus Dur memahami betul bahwa di balik simbol dan ritus terdapat lapisan ideofak, sistem signifikansi, dan itu adalah nilai dan spiritualitas Syiah. “Titik temu antara kita umat Islam Indonesia, terutama warga NU dengan Syiah yaitu seperti mahabbah Ahlulbait, sangat mencintai Habaib, Ahlulbait, cium tangan guru, cium tangan orang yang kita muliakan sama antara kita dan tradisi Syiah, baca Barzanji, baca Diba’, baca shalawat, haul, ziarah kubur, tawassul sama antara kita dan Syiah.” Prof. Dr. KH. Said Agil Sirajd Baca juga Menjawab Tudingan Mazhab Syiah adalah Sebuah Gerakan Politik Selain Sumatera dan Jawa, jejak spiritualitas Syiah juga ditemukan di berbagai daerah di Nusantara seperti Kalimantan, Sulawesi, Maluku hingga Sulu, Thailand, dan Malaysia. Di Sulawesi, peringatan Asyura masih dilangsungkan di beberapa wilayah meski tidak dilakukan secara kolosal seperti di Aceh, Bengkulu dan Pariaman. Masyarakat Muslim memperingatinya dengan memasak bubur khusus yang dikenal dengan bubur asyuro’. Sebagian besar orang Mandar menganggap bulan Muharam sebagai bulan bencana dan kedukaan yang tidak baik untuk menyelenggaraan perayaan kegembiraan seperti pernikahan, sunatan atau pendirian rumah. Dalam sebuah penelitian disertasi tentang identitas keagamaan di sebuah komunitas Muslim di Hatuhaha di Negeri Pelauw, Kecamatan Pulau Huraku, Maluku Tengah, seorang promovendus Universitas Gadjah Mada berhasil mempertahankan hasil penelitiannya. Namanya WW Salah satu temuan penting dari penelitian Yance Rumahuru adalah bahwa Syiah merupakan paham Islam yang pertama hadir di Hatuhaha, Pulau Haruku, Maluku Tengah. Sebagai seorang Nasrani, Dr. Yance tidak memiliki dilema antropologis yang mungkin dialami oleh seorang Muslim Sunni atau Syiah dalam penelitian ini. Sarjana lulusan Program Lintas Agama dan Budaya Pascasarjana UGM ini, menemukan sejumlah tradisi Syiah yang telah menjadi adat dan tradisi komunitas Muslim Hatuhaha. Baca juga Ali bin Abi Thalib Diagungkan Syiah, Sunni, dan Non-Muslim “Belakangan orang baru bilang bahwa Islam di Maluku im Sunni. Namun sebenarnya setelah saya melakukan penelitian tahun 2009-2011, saya menemukan bahwa di Maluku Tengah justru yang ada di sana adalah Islam Syiah. Kehadiran Islam di Maluku sendiri sebenarnya bisa ditarik ke belakang jauh sebelum kedatangan Portugis dan Belanda. Saya menemukan bahwa di abad ke-7, 8 dan 9 sudah ada orang-orang Cina dan orang Arab yang sebenarnya itu bukan orang Arab murni, tapi ada orang Persia yang datang juga ke Maluku dan mereka itu yang memperkenalkan Islam. Islam baru melembaga di Maluku baru pada abad ke-13, tapi di abad ke-7, 8 dan 9 itu saat perdagangan yang ramai. Islam sudah ada dengan kehadiran orang-orang Arab, Persia dan Cina tersebut. Pedagang Cina tidak diketahui agama mereka apa, tapi orang Persia dan Arab adalah Islam dan itu Syiah. Mengapa Syiah diterima di Maluku, karena tradisi-tradisi dan ajaran-ajaran Syiah itu cocok dengan budaya orang Maluku dan sebenarnya ritual-ritual Syiah memiliki kesamaan dengan ritual-ritual yang ada di Maluku. Karena itu lalu saya berkesimpulan bahwa sebenarnya Islam yang tertua di Maluku adalah Islam Syiah. Jadi, sebenarnya untuk menyebutkan bahwa Islam Maluku adalah Syiah terutama di Maluku Tengah. Ritual-ritual keagamaan dan ritual adat yang sudah disatukan dan itu adalah ritual-ritual Syiah. Baca juga Syiah Hakiki dalam Pandangan Sayyidah Fathimah Di Maluku Tengah, terutama di pulau Haruku ada komunitas Muslim Hatuhaha yang mempunyai ritual tiga tahunan, namanya Maatenu. Pemimpin ritual itu disebutkan sebagai garis lurus keturunan dari Ali. Di dalam “maatenu” tersebut sebenarnya seruan-seruan yang dinaikkan adalah seruan-seruan untuk memuji Ali. Pedang yang digunakan, pakaian yang digunakan semuanya mengindikasikan simbol-simbol Syiah. Saya punya penelitian menunjukkan hal itu. Seluruh ritual-ritual yang lain termasuk tradisi maulid yang di kalangan Islam di Nusantara cukup hidup. Di sana mereka tidak hanya merayakan kelahiran Nabi saja, tapi kelahiran-kematian dan penghormatan kepada sahabat-sahabat Nabi dan terutama sebenarnya mereka merujuk kepada Ali. Dalam tradisi Perkawinan, selain ijab kabul mereka itu selalu mengatakan “Ali suka Fatimah, Fatimah suka Ali dan itu sah.” Dr. Yance Rumahuru Ternyata, seperti karakteristik umumnya di berbagai daerah Nusantara, paham Syiah mengalami proses pribumisasi sedemikian rupa sehingga Syiah di Pulau Haruku disebut dengan istilah Islam Adat. Baca juga Toleransi Muslim Syiah “Dalam konteks komunitas Muslim di Pulau Hatuhaha Maluku Tengah itu, masyarakat sendiri sejak tahun 1939 mereka membagi diri menjadi Kelompok Syariah dan Kelompok Adat. Mengapa demikian? Itu terjadi setelah di akhir abad ke-18 dan 19 ada banyak orang dari Maluku Tengah yang belajar Islam ke Arab dan kemudian mereka kembali. Generasi itulah yang kemudian mensponsori untuk memurnikan Islam dan menjalankan syariat secara baik dan itu menjadi alasan utama untuk memisahkan diri dari kelompok mayoritas Syiah yang sebetulnya menyatu dengan kultur lokal masyarakat setempat sehingga mereka menyebutkan diri sebagai Kelompok Syariah dan kelompok Syiah yang mayoritas di posisikan sebagai Kelompok Adat. Dalam tradisi keagamaan setiap saat sebenarnya tidak ada pertentangan antara Kelompok Syariat dan Kelompok Adat. itu tampak dalam pelaksanaan setiap ritual. Setiap ritual yang dilaksanakan di Kelompok Adat, Kelompok Syariah juga berpartisipasi dan sebaliknya.” Dr. Yance Rumahuru Syiah juga telah hadir di Thailand, terutama di kota Ayutthaya Ayodya, ibukota Kerajaan Siam abad 14-18 M. ”Lebih dari seribu tahun yang lalu muslim dari Timur Tengah, Persia, India datang ke Thailand. Kami menemukan bukti-bukti adanya komunitas muslim di berbagai daerah Thailand seperti Ayutthaya. Ayutthaya merupakan ibu kota Thailand pada abad 14 hingga 18. Kami mengenal banyak tentang komunitas Muslim di kerajaan Ayutthaya, khususnya di kota Ayutthaya ibu kota Thailand. Saat ini ada beberapa reruntuhan dari desa Syiah di Ayutthaya dan reruntuhan masjid muslim Syiah. Tapi sekitar abad 18 dihancurkan oleh musuh. Karena Ayutthaya merupakan pusat muslim Syiah dari Iran dan daerah selatan India. Kami menemukan bukti-bukti kebudayaan muslim Syiah di Thailand khususnya bangunan, kultur dan kami menemukan lukisan dinding di Tatum yang menggambarkan tentang penyelanggaraan acara Asyura. Di Thailand kami menyebut acara ini Muharam yang merupakan acara atau perayaan yang sangat terkenal di Thailand.” Dr. Julisprong Chularatana Baca juga Sunni CIA dan Syiah MI6 Bekerja Memecah-belah Umat Islam Di Malaysia, Syiah tentu saja juga sudah hadir sejak sejarah awal Islam melalui berbagai literatur hikayat yang mengisahkan perjuangan Ahlulbait Nabi Muhammad SAW menegakkan kebenaran dan keadilan. “Pedagang-pedagang Persia telah datang untuk berdagang di alam Melayu seperti di Malaka, Aceh dan pusat-pusat perdagangan yang masyhur ketika itu. Sehingga dapat dilihat bahwa unsur-unsur Persia telah menular dalam aspek-aspek tertentu masyarakat Melayu di Asia Tenggara. Sebagai contohnya dari sudut bahasa. Banyak sekali bahasa-bahasa yang dipengaruhi oleh persia, contohnya terdapat hikayat Hasan dan Husein, hikayat Nur Muhammad, hikayat Hanafiyah.” Dr. Rabithah Mohammad Ghazali Seorang pengkaji literatur dan hikayat Melayu, Dr. Mohammad Faisal bin Musa, berkesimpulan bahwa sejumlah hikayat Melayu Yang muncul sejak awal mula kedatangan Islam ke Semenanjung Malaka adalah karya klasik Melayu yang mengandung ajaran Syiah dan bukan hikayat Sunni dengan pengaruh Syiah. Sarjana Universitas Kebangsaan Malaysia ini melakukan analisis teks terhadap sejumlah hikayat seperti Hikayat Muhammad Hanafiyyah, Hikayat Hasan Husen Tatkana Kanak-kanak, Hikayat Hasan Husen Tatkala Akan Mati, dan Hikayat Tabut. Baca juga Syiah-Sunni di Bawah Panji Imam Husain Mohammad Faisal menyebutkan pula bahwa sejak kedatangan Wahabi abad ke-19, hikayat-hikayat Melayu yang memuat ajaran Syiah itu mengalami apa yang disebutnya sebagai de-Syiahisasi. Sejumlah ajaran khas Syiah dinetralisasi dengan mengubah isi kisah, “Ada kecenderungan ahli-ahli yang datang dari tanah Arab yang kurang apresiatif terhadap Ahlulbait sehingga misalnya hikayat Muhammad Ali Hanafiyah diganti menjadi hikayat Hasan Husain, tapi hikayat Hasan Husain ini juga akhirnya diganti lagi, supaya tidak dimekarkan.” Prof. Dr. Abdul Hadi Pertanyaan yang muncul sekarang adalah Apakah semua tradisi, budaya dan literatur yang begitu kental memuat ajaran dan spiritualitas Syiah yang hadir di berbagai wilayah Nusantara sejak awal kedatangan Islam muncul begitu saja hadir semuanya serba kebetulan? Jika memang tradisi sanjungan dan pembelaan kepada keluarga Nabi dianggap sebagai ajaran Islam pada umumnya, mengapa banyak umat Islam di Nusantara saat ini tidak mengenal siapakah Sayyidah Fatimah, siapakah Al-Hasan, siapakah Al-Husain? Mengapa tragedi Karbala yang membantai keluarga Nabi hampir pupus dalam kurikulum pengajaran Islam? Akal sehat dan nurani yang bening diundang untuk menjawab kedua pertanyaan tersebut. Dikutip dari buku Menguak Akar Spiritual Islam Indonesia, Peran Ahlulbait dalam Penyebaran Islam di Nusantara. Penulis TIM ICRO dan Tim ACRoSS Baca juga “SYIAH” ABI Post Views 10,010
Oleh Maulina Dewi SYIAH merupakan sebuah sekte yang muncul pasca wafatnya Baginda Nabi. Sebagaimana yang dicatat oleh Imam al-Asy’ari dalam kitab Maqālat Islāmiyyin bahwa awal mula perselisihan yang terjadi pada umat Islam —pasca wafatnya Rasulullah ﷺ — adalah perselisihan dalam perkara Imamah kepemimpinan”. Setelah Kaum Anshar mengatakan “Kita semua sama-sama memiliki sosok pemimpin” Minna amīrun wa minkum amīrun akhirnya kepemimpinan pun jatuh di tangan Abu Bakar. Begitu juga yang terjadi pada khalifah ketiga, Ustman bin Affan, dan keempat, Ali bin abi thalib yang pada saat itu sedang memuncaknya perseteruan. Ahmad Amin, salah seorang sastrawan Mesir, juga menjelaskan dalam bukunya Fajr al-Islam bahwa sebenarnya benih Syiah telah muncul tepat pasca Rasulullah ﷺ wafat. Mereka yang mempelopori sekte ini menganggap bahwa hak kekuasaan dalam kepemimpinan hanya sah diberikan kepada ahlu bait. Ahlu bait yang paling utama menurut pandangan mereka adalah Abdullah bin Abbas dan Ali bin Abu Thalib dengan lebih mengunggulkan Ali dibanding Ibn Abbas. Kekuatan sekte ini membubung tinggi saat kekhalifahan benar-benar telah sampai pada tangan Ali bin Abi Thalib. Setelah pembaiatan Sayyidina Ali, Kufah dijadikan markaz pemerintahan, sehingga di sanalah akar syiah tertanam kuat yang kemudian menyebar ke suluh penjuru bumi lihat Hayat al-Syi’ir fi al-Kufah Demikian paparan peneliti INSISTS, Dr. Syamsuddin Arif dalam Diskusi Ilmiah yang diadakan oleh Senat Mahasisiwa Fakultas Ushuludin Universitas Al-Azhar yang bekerjasama dengan Ruwaq Indonesia dalam tema “Menyorot Syiah di Indonesia” Sabtu 09/02/2019 lalu. Dalam pandangan Dr. Syamsuddin, sebelum memaparkan tentang Syiah, sebaiknya kita membuat distingsi terlebih dahulu; apa yang dimaksud dengan Syiah, siapa dan apa masalahnya? Karena orang awam di Indonesia banyak yang terkecoh hanya karena tidak paham. Sebagai contoh, mereka sangat mudah ditipu oleh berbagai pendapat yang berdalih bahwa kata syiah’ merupakan kata yang disebutkan dalam al-Qur`an. Padahal kalimat yang disebutkan dalam al-Qur`an tidak berarti memliki makna kebenaran. Misalnya, kata fir’aun’ lebih banyak disebutkan daripada Muhammad, apa lantas disimpulkan peran fir’aun yang di gambarkan adalah benar? Tentunya tidak. Syiah yang disebut dalam al-Qur`an bisa kita beri makna secara terminologis. Untuk mencairkan suasana dan mempermudah penjelasan, intelektual muslim kelahiran 71 ini memberikan sebuah contoh sederhana dengan mengatakan “idza kuntum tansuruna Jokowi, fa antum Syiah Jokowi”, jika kalian berpihak pada kubu Jokowi, misalnya, artinya kalian adalah pengikutnya. Tetapi yang disinggung dalam pembahasan Syiah disini tentunya lebih spesifik dari area terminologis. Baca Soroti Syiah di Indonesia, Senat Mahasiswa Ushuluddin Al Azhar Kairo Adakan Dialog Beranjak dari makna terminologis, kita akan mendapati Syiah dalam sekte-sekte Islam —yang terpaparkan dalam permasalahan firaq islamiyah— sebagai Syiah dalam ranah politis. Sekte ini bermula dari perang sipil yang akhirnya meletus setelah terbunuhnya Sayyiduna Utsman bin Affan. Golongan Syiria dikomandoi oleh Muawiyah, yang menolak untuk mengakui legitimasi khalifah keempat, Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Di sisi lain terdapat kelompok yang menyetujui Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah, dan inilah yang disebut sebagai Syiah atau kelompok yang mendukung Ali bin Abi Thalib. Namun semua itu telah terjadi 1400 tahun yang lalu. Artinya, wafatnya para sahabat telah menjadi penutup lembaran Syiah politis. Lalu Syiah yang bermunculan setelah zaman sahabat itulah yang dinamakan Syiah ideologis worldview. Akidah mereka berbeda dengan Ahlus Sunah. Dapat dilihat indikasinya dari tiga pembagian syiah; pertama, Syiah Tafdhil golongan yang meyakini bahwa sayyidina Ali bin AbiThalib merupakan sahabat yang paling utama tanpa mengkafirkan sahabat yang lain. Kedua, Syiah Rafdh golongan yang mengingkari tiga khalifah sebelum Sayyidina Ali bin Abi Thalib. Ketiga, Syiah Ghuluw golongan yang mengkuduskan, mendewakan bahkan menuhankan sayyidina Ali dan para imam garis keturunan sayyidina Hussein Ra. Penyebaran Syiah telah sampai di belahan bumi Asia tenggara, salah satunya Indonesia. Meskipun dalam hal ini golongan Syiah di indonesia minoritas tetapi ada indikasi bahwa Syiah terus berkembang, baik secara kualitas maupun kuantitas di berbagai kota. Ustadz alumni Ponpes Darussalam Gontor tersebut mejelaskan bahwa terdapat beberapa pendapat yang tersebar di Indonesia mengenai Syiah. Ada yang menganggap bahwa syiah hanya madzhab, ada yang berdalih banyak persamaan antara syiah dan Ahlus Sunah, dan ada juga argumen yang mengatakan bahwa Syiah itu tidak monolitik. Di Indonesia sebagian orang berusaha mencari titik temu, mencari kesamaan-kesamaan, entah disengaja atau tidak dengan mengabaikan perbedaan-perbedaanya. Dr Syamsuddin mengutip perkataan pak Kiyai Abdurrahman Wahid, mantan presiden RI keempat, “Syiah adalah NU plus imamah dan NU adalah Syiah tanpa imamah”. Maksudnya, presiden yang sohor dipanggil Gus Dur itu menggarisbawahi perbedaan di antara keduanya yaitu persoalan Imamah. Peneliti INSISTS tersebut juga mengutip perkataan direktur jenderal pendidikan Islam kementrian agama yang kontradiksi dengan pemaparan sebelumnya. Kutipan tersebut berbunyi, “Ketika Sunni dan Syiah mengatakan Tuhan yang sama, nabi yang sama, kiblat dan syahadat yang sama, mengapa perbedaan harus dibesar-besarkan? Tentunya ini menyalahi akidah. Padahal orang Syiah sendiri, seorang profesor dari Iran yang berwargannegara Amerika mengatakan dalam Ensiklopedia Iranika “Ideologi Syiah berkisar pada keyakinan mengenai imam yang disebut Imamologi”. Bagi orang Syiah, imam itu ma’shum bersih dari dosa, atau menyamakan derajatnya dengan Nabi dan Rasul, bahkan mereka meyakini imam adalah hujjah bagi umat Islam, dan pada diri imam-imam tersebut terdapat titisan ruh dari imam yang sebelumnya. Imam yang mati sebelumnya dipercayai hanya sembunyi, hingga suatu saat nanti akan kembali. Oleh karenanya ada istilah aqidah roj’ah’, imam qoim’ yang berdiri atau bangkit dan imam qoid’ pasif atau yang tidak melawan pemerintahan melainkan hanya pemimpin spiritual dalam komunitas Syiah.” Baca Al-Azhar, Sunni dan Syiah Yang menjadi masalah kita terhadap ajaran mereka di antaranya adalah; penghinaan mereka kepada para Sahabat Nabi, gemar memalsukan hadis dan kepercayaan mereka adanya konsep tanâsukh pindahnya roh nabi kepada para imam mereka. Menurut Dr. Syams, ada tiga kata yang dapat mewakili sosok mereka, i Deviator penyimpang, ii Koruptor perusak, dan iii Fabrikator pemalsu. Lalu jika ingin ditelisik lebih dalam mengenai Syiah ideologi ini, kita akan menemukan konsep yang bernama Huseinsentris’. Dalam Kitab al-Ma’ārif karya Ibnu Qutaibah disebutkan silsiah sekaligus nama-nama istri dan keturunan Sayyidina Ali. “Putera dari seluruh istrinya berjumlah 21, tetapi yang ramai di telinga kita hanya Hasan dan Hussein, lalu yang sembilan belas kemana? Mengapa yang dinobatkan sebagai imam hanya dari garis keturunan sayyidina Hussein?,” ujar Dr. Syams. Jawabannya bisa ditemukan pada sebuah legenda versi mereka. Legenda yang mereka yakini benar-benar suatu peristiwa yang pernah terjadi dahulu kala. Bahwa Persia runtuh setelah diserang dan ditaklukan oleh muslim sejak masa Khalifah Abu Bakar al-Shiddiq. Lalu disempurnakan pada zaman Sayyidina Umar bin Khattab. Dalam legenda tersebut disebutkan bahwa Raja Persia, Yazdegerd III memiliki seorang putra dan dua orang putri. Riwayat menyebutkan bahwa kedua putri raja tersebut dibawa ke Madinah sebagai tawanan perang. Kala itu sebagian sahabat mengingat pesan Rasulullah ﷺ, jika ada orang yang dihormati kaumnya, hendaknya para sahabat juga menghormatinya idza atâkum karîmu qawmin fa-akrimûhu . Karena putri-putri itu termasuk bangsawan yang disegani, maka mereka tidak ditawan, bahkan salah satunya, Shahrbanu dinikahkan dengan Sayyidina Hussein. Dari rahim putri Shahrbanu lahirlah seorang imam yang dikenal dengan Ali Zainal Abidin. Merupakan salah satu budaya penduduk Iran menyebut nama seorang putri bangsawan dengan sebutan penghormatan. Mereka menyebut Shahrbanu dengan sebutan bibi, sebutan untuk perempuan suci. Sampai sekarang warga Iran percaya bahwa makam Bibi Shahrbanu masih ada, sehingga didirikan di atasnya bangunan untuk menjadi tempat ziarah di Teheran bagian selatan. Mereka mempercayainya sebagai tempat mustajab yang bisa mengabulkan segala doa yang dipanjatkan para perempuan. Makam tersebut berada di atas puncak bukit di Teheran selatan. Ribuan wanita berdesakan di sekitar makam, menangis, mencari pelipur hati dan keberkahan. Bagi warga Iran, pernikahan Imam Hussein dengan Bibi Shahrbanu yang merupakan ibu dari imam Syiah yang keempat itu ditamsilkan sebagai pernikahan antara Iran dan Islam. Hasil perkawinan inilah yang melahirkan Syiah ideologi. Oleh karenanya dari perspektif sosiologis, papar Dr. Syams, Syiah adalah perkawinan antara iranisasi dan islamisasi, dan imamologi syiah bisa dilacak di sini. Mereka hanya menta’dzimkan keturunan imam Hussein, karena darinya bertemu darah biru Quraisy dan Persia. Pertemuan dua nasab ini menjadi pelumas berkembangnya Syiah. Baca Ketika Syiah Menguasai Mesir Ditambah lagi dengan terjadinya peristiwa Karbala, yaitu pada saat Sayyidina Hussein dan kerabat-kerabatnya tewas bertempur dalam pertempuran tidak seimbang antara pasukan Ibnu Ziyad Gubernur Kufah masa itu dan pasukan Sayyidina Hussein yang jumlahnya lebih sedikit lihat Tarikh al-Thabary, v/347-351. Tragedi tragis tersebut menjadi bahan bakar ideologi Syiah sekaligus sendi penyebaran ajaran mereka. Bahkan untuk memperingati Hari Asyura yang memilukan itu, komunitas Syiah di berbagai belahan dunia —ikut serta didalamnya komunitas Syiah Indonesia— mengadakan kegiatan seremonial dengan penyiksaan diri berdarah sebagai bentuk penebusan kesalahan masa lalu nenek moyang mereka. Keberadaan Syiah di Indonesia tidak berkesudahan menuai serang-menyerang dalam selimut antar umat Islam di bawah naungan ormas masing-masing. Jika dibiarkan, perkara ini mengancam persatuan agama dan kebangsaan. Ironisnya, mereka sangat berpegang teguh pada ajaran ideologinya dengan bertaqiyah menyembunyikan ke-Syiahannya dalam penyebaran dakwah. Suara mereka sangat sulit dideteksi sebab tidak mengaung lantang. Benda semu sebaiknya diterawang dengan penglihatan mikroskop, atau setidaknya tidak dengan kacamata yang sama semunya. Dalam bahasanya Dr. Syams, “Kalau kita memandang sesuatu yang eror dengan otak yang eror pula, maka negara akal sehat pun tak akan pernah terwujudkan”. Tawa para tamu undangan serentak menggemuruhkan aula. Sebelum penulis buku berjudul “Bukan sekedar Madzhab Oposisi dan Heterodoksi Syiah” itu menutup pemaparannya, beliau berpesan agar kita bersungguh-sungguh dalam belajar selagi kesempatan masih terbuka lebar di hadapan kita, karena dengan begitu kita akan mengetahui sesuatu dengan hakikat pengetahuan. “Sebagai mahasiswa Indonesia yang belajar di al-Azhar, hendaknya kalian juga mempelajari tentang Syiah. Sebab Syiah telah, masih dan akan hidup di antara masyarakat kita di Indonesia,” ujar Dosen Senior Pascasarjana UNIDA Gontor ini.* Penulis adalah Mahasiswi Fakultas Bahasa Arab Universitas Al-Azhar Mesir dan Pimpinan Majalah Latansa Kairo periode 2017-2018
Almarhum Gus Dur yang sebagai ulama besar sekaligus Ketua Umum NU semasa hidupnya pernah mengatakan bahwa NU adalah golongan Syi’ah yang minus imamah Menurut Sumber Majalah Berita Mingguan GATRA Edisi 25 November 1995 bahwa Kiai Bashori mengatakan pernah mendengar pidato Gus Dur di Bangil, Jawa Timur, menyebut Ayatullah Khomeini sebagai waliyullah atau wali terbesar abad ini. Padahal, menurut pendapat ahlusunah waljamaah, jelas bahwa Syiah itu menyimpang dari Islam. Maka Kiai Bashori bertanya, “Bagaimana sih sebenarnya akidah sampeyan tentang Syiah ini?” . Menurut Effendy Choiri, yang dikenal sebagai pendukung Gus Dur, jawaban Gus Dur sebagai berikut dari segi akidah, memang beda antara Syiah dan Sunni. Saya melihat Khomeini itu waliyullah bukan dalam konteks akidah, melainkan dalam konteks sosial. Khomeini adalah satu-satunya tokoh Islam yang berhasil menegakkan keadilan, memberantas kezaliman, dan lain-lain. Jadi soal akidah kita tetap beda dengan Syiah. Dan baru-baru ini Ketua Umum NU Said Aqil Siroj juga mengakui bahwa NU banyak kemiripan dan sampai membela mati-matian Syi’ah di Indonesia Syiah sangat menghormati GusDur, namun wahabi semacam Ustadz Abu Bakar Ba’asyir malah menuduh Gus Dur telah murtad, menurut Ba’asyir “Jadi, mengenai mister Dur, menurut keyakinan saya Mr Dur ini murtad ”. Pernyataan itu terlontar, saat ustad Abu Bakar Ba’asyir, berkali-kali di tanya oleh jemaah pengajian mengenai pengikut Gus Dur yang begitu mengkultuskannya. Dan ia pun menolak memanggil Abdurrahman Wahid dengan “Gus” karena baginya sebutan itu Maaf, saya tidak memanggil Gus, karena panggilan Gus itu hanya digunakan untuk anak kyai mulia di Jawa Timur”, kata ustad Abu. Ustad Abu mengatakan, Ba’asyir berani mempertanggung jawabkan pernyataannya ini, ia pun menantang tokoh-tokoh NU untuk berdiskusi, bahkan ia pun berani bermubahalah Menurut Ba’asyir, Gus Dur itu Murtad Maktabah Alawiyyin Syiah Imamiyah 12 Indonesia, tahun 1379 H Dari kiri Ali Baqir al-Musawi, Doktor Muhammad Sa’id Thayyib, Sayyid Hasyim as-Salmân, almarhûm Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki, Doktor Sâmi dan Amin al-Aththâs. Habib Ali Al Habsyi Kwitang, habib Ali Al Atthas Bungur, dan Syeikh Mudzaffar Ulama Syiah berdo’a bersama Habib Ali Al Habsyi Kwitang, habib Ali Al Atthas Bungur, Ulama Syiah Syeikh Mudzaffar, Habib Salim Bin Jindan Ulama Syiah Syeikh Mudzaffar bersama Habib Salim Bin Jindan Perselisihan antara Sunni Ahlus Sunnah dan Syi’i Syiah di Bangil Pasuruan sesungguhnya telah berlangsung lama. Insiden bentrok di pesantren YAPI Yayasan Pesantren Islam Bangil beberapa waktu lalu, 15 Februari 2011, adalah akumulasi dari perselisihan yang telah mengakar sejak awal tahun sembilan puluhan. Bermula dari ditemukannya surat rahasia Habib Hussein al-Habsyi –-pendiri YAPI-– yang ditujukan kepada seseorang di Iran pada tahun 1993. Pihak YAPI tentunya kaget dengan terpublikasinya surat kepada seorang Syi’ah Iran itu. Sebab, surat itu berisi pernyataan Habib Hussein al-Habsyi, bahwa ia membuat kedok menyembunyikan ke-Syi’ah-annya sebagai setrategi dakwah. Padahal sebelumnya ia dikenal sebagai ulama’ Sunni yang masyhur di kota Bangil. Inilah sebagian isi terjemahan surat yang ditulis berbahasa Arab tersebut “Saya ucapkan terima kasih kepada tuan atas usulan yang benar terhadap saya dan sudah lama menjadi pemikiran saya. Yaitu sejak kemenangan Imam atas Syi’ah. Walaupun saya tangguhkan hal itu, namun saya tidak ragu sedikitpun tentang kebenaran Ahlul Bait dan bukan karena takut kepada orang-orang atau jika saya tinggalkan taqiyah maka bukan supaya dipuji orang-orang. Sama sekali tidak! Akan tetapi saya sekarang mempertimbangkan situasi disekitar saya. Fanatisme Sunni secara umum masih kuat. Untuk mendekatkan mereka kaum Sunni, saya ingin nampak dengan membuka kedok, kemudian membela serangan ulama mereka yang Nawasib anti Syi’ah mereka akan mengatakan Syi’i membela Syi’ah. Saya telah berhasil merangkul sejumlah ulama mereka yang lumayan banyaknya, sehingga mereka memahami jutaan madzhab Ahlul Bait atas lainnya. Saya anggap ini sebagai kemajuan dalam langkah-langkah perjuangan kita”. Majalah AULA – majalah milik Nahdlatul Ulama– pada edisi November 1993 pernah menurunkan berita tentang Syi’ah Bangil dan memuat terjemahan surat itu. Surat ini juga sempat menjadi berita heboh di Pasuruan. Sebab selama ini, Habib Hussein al-Habsyi dikenal masyarakat Pasuruan yang mayoritas Sunni sebagai ulama dari kalangan habaib yang mumpuni. Sebelum itu, pengajiannya di Masjid Agung Bangil dipenuhi jama’ah yang menganut Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Terungkapnya surat rahasia tersebut membuat masyarakat Bangil berbelok arah. Banyak para asatidz dan santri kemudian keluar dari pesantren YAPI. Sejak itu konflik dalam skala kecil sering terjadi di kota Bangil dan sekitarnya. Hingga pada tahun 2007 masyarakat Bangil dan sekitarnya melakukan demo besar setelah shalat Jum’at untuk menolak paham Syi’ah. Menurut pengakuan seorang warga Bangil, penganut Syi’ah bahkan sudah tidak segan lagi melakukan aktifitas dan pengajian dengan isi doktrin Syi’ah. Masyarakat Sunni Bangil tentu tidak asal menolak. Beberapa ulama sebenarnya telah mengingatkan mengenai keberadaan paham Syi’ah di propinsi yang mayoritas berbasis Nahdliyyin ini. Di harian Surabaya Post, 27 April 1985, yang sebagaian isinya dimuat lagi oleh majalah AULA tahun 1996, KH. As’ad Syamsul Arifin almarhum cukup lugas mengomentari dakwah Syi’ah Syiah dan NU mirip . Almarhum Gus Dur[1] dulu pernah mengatakan Nahdlatul Ulama NU itu Syiah minus Imamah, Syiah itu NU plus Imamah. Bukan tanpa alasan statemen itu dilontarkan, memang NU dan Syiah secara budaya memiliki banyak kesamaan . Di Indonesia pendakwah ajaran Islam tak dapat dipastikan apakah Sunni atau Syiah yang datang terlebih dahulu, sebagaimana madzhab leluhur para habib di Hadramaut yang masih diperdebatkan apakah Sunni, Syiah atau bahkan membuat madzhab sendiri. Karena itulah budaya, simbol-simbol Syiah melekat kuat dengan budaya Sunni di Indonesia. Kecintaan akan keluarga Nabi saw melekat dengan erat, di antaranya; pujian, tawasulan pada para imam Syiah termaktub dalam syair-syair, tarian, dll; hikayat dan cerita kepahlawanan keluarga Nabi saw; tradisi-tradisi yang mirip dengan budaya Syiah, seperti tabot, tahlil arwah hari ke-n, rabo wekasan, primbon, larangan berhajat di bulan suro; istilah-istilah keagamaan, dsb seperti syuro, kenduri, bahkan penamaan hal-hal berbau maaf seks pun dengan nama keluarga nabi, seperti tongkat Ali atau rumput Fatimah padahal kalau menyesuaikan nama aslinya seharusnya terjemahnya adalah tangan Maryam. [2] . NU sebagai salah satu mainstream Sunni di Indonesia menghormati, mengagungkan dan mentaati keturunan Nabi saw, demikian halnya dengan Syiah, bahkan jika mereka berbuat salah pun mereka tetap menaati dan tunduk karena takut kualat, dan sebagainya. Ingat skandal habib pemimpin majelis terbesar kedua di Jakarta?. NU mengenang dan membacakan manaqib para leluhur guru, kyai-kyai mereka dan mengadakan haul kewafatan mereka. Begitu juga dengan Syiah. Dalam mengatasi ayat-ayat mutasyabihat berkenaan dengan Tuhan, kedua golongan ini sama-sama menakwilkan sesuai dengan posisi Tuhan, bukan memakai arti lahiriah ayat tersebut . Jika dalam NU ada saudara mereka yang meninggal, mereka mendoakannya dalam acara tersendiri, tahlilan. Begitu juga dengan Syiah. NU mengajarkan kebolehan tawasul dengan orang-orang suci’ mereka, begitu pula dengan Syiah. NU menganggap orang-orang suci mereka tetap hidup meski sudah meninggal dan menziarahi kuburan mereka untuk bertawasul dan bertabarruk. NU mengenal tabaruk dengan benda-benda peninggalan atau pemberian orang suci’ sama halnya dengan Syiah. Poin-poin terakhir di atas itulah yang membuat golongan muslim kecil imporan naik darah lantas mengkafir-musyrikan dan siap-siap menghunuskan pisau untuk mengalirkan darah penganut NU dan Syiah untuk taqarub kepada Allah. . Dua golongan ini, NU dan Syiah memang memiliki banyak kesamaan. Kedua-keduanya sudah dicap sesat dan kafir oleh kelompok Islam kecil lainnya. Tak jarang untuk mengadu domba dan mempertajam perseteruan kedua kelompok ini dan, Syiah dan Sunni, ada oknum yang mengaburkan, mengganti bahkan menghilangkan redaksi-redaksi dalam kitab-kitab rujukan Sunni-Syiah[3]. Masalah yang seringkali dibentrokkan dengan golongan Sunni adalah imamah Ali dan 11 keturunannya, tahrif al-Quran, doktrin keadilan sahabat nabi, nikah mut’ah, taqiyah, dll. . Keimamahan ahli bayt merupakan salah satu rukun dalam Syiah. Namun bukan berarti orang yang tidak meyakini dan mengikutinya kafir. Begitulah yang dikatakan para imam Syiah. Imam Abu Ja’far, Muhammad Al-Baqir as, berkata, seperti tercantum dalam Shahih Hamran bin A’yan “Agama Islam dinilai dari segala yang tampak dari perbuatan dan ucapan. Yakni yang dianut oleh kelompok-kelompok kaum Muslim dari semua firqah aliran. Atas dasar itu terjamin nyawa mereka, dan atas dasar itu berlangsung pengalihan harta warisan. Dengan itu pula dilangsungkan hubungan pernikahan. Demikian pula pelaksanaan shalat, zakat, puasa, dan haji. Dengan semua itu mereka keluar dari kekufuran dan dimasukkan ke dalam keimanan.” . Mengenai tahrif al-Quran, umat Islam sepakat bahwa hal ini merupakan masalah besar. Siapapun yang meyakini bahwa al-Quran telah berubah, baik kurang atau ditambah, maka dihukumi kafir. Sayangnya, pengeritik dan pencela Syiah tidak melihat langsung kondisi sebenarnya di Iran, melihat langsung al-Quran-quran yang tersebar seantero Iran yang sama dengan yang dibawa umat Islam lainnya. Masih ingat dengan “Mukjizat Abad 20 Doktor Cilik Hafal dan Paham Al-Quran” yang best seller di Indonesia, Masih sama kan dengan al-Quran yang dibaca dan dihafal kelompok Sunni?. Adapun riwayat-riwayat hadits, sahabat atau ulama yang mengatakan adanya tahrif al-Quran sebenarnya juga bertebaran tak hanya di kitab-kitab Syiah saja tapi juga ada di kitab-kitab Sunni. Itupun ada yang belum dipastikan sahih riwayatnya atau tidak dan juga tidak menjustifikasi si empunya kitab sebagai penganut tahrif, bahkan mungkin ia menolak mentah-mentah.[4] . Jika ada oknum di suatu golongan yang meyakini tahrif, maka itu tidak menegaskan semua golongan itu meyakini tahrif. Baik Sunni maupun Syiah mempunyai oknum yang meyakini adanya tahrif tersebut. Kalau dalam Syiah penganut tahrif al-Quran disebut kelompok Akhbari sedangkan mayoritas syi’ah adalah ushuli yang anti tahrif. Adapun pendukung tahrif di Sunni, pernahkan anda membaca cerita Ibnu Syanbudz dan pengikutnya, ulama besar Sunni ahli al-Quran? [5] . Adapun masalah sahabat, yang perlu dipertanyakan adalah apakah meyakini semua sahabat Nabi saw itu udul adalah bagian dari iman atau tidak. Jika iya, dan mereka yang mencela, mengkritik dan melaknat sahabat adalah kafir. Maka bagaimana dengan para sahabat itu sendiri yang saling mencela melaknat bahkan membunuh sahabat lainnya. Apa mereka kafir? Jika anda mempelajari sejarah Islam maka akan anda temukan banyak riwayat valid seperti itu di hampir semua kitab-kitab sejarah umat Islam, baik Sunni maupun Syiah. Jika menunjukkan dan mengungkapkan kejelekan dan keburukan sahabat merupakan dosa besar, maka hampir semua pengarang kitab hadits dan sejarah termasuk orang yang berdosa besar. Maka tak heran jika ada ulama besar hadits yang menganjurkan untuk menutupi hal-hal tersebut untuk menjaga doktrin sahabat itu wajib adil.[6] . Dengan dasar konsep semua sahabat udul itu pula semua peristiwa hitam dan kelam perseteruan sahabat ditafsirkan dan dijelaskan. Terkadang kejelekan yang dilakukan oleh para sahabat ditutupi secara halus. Jika ada riwayat yang menyebutkan nama sahabat yang berbuat buruk, maka diganti dengan fulan, si a, dll. Jika ada perbuatan atau perkataan buruk sahabat maka ditulis kadza, sesuatu, dll. . Fitnah buruk lain yang disematkan pada Syiah adalah Syiah mengkafirkan semua sahabat, kecuali 3 orang. Jika Syiah mengkafirkan semua sahabat, lantas siapa yang membantu Ali dalam perang melawan Aisyah, Thalhah, Zubair, madzhab Khawarij, dan Muawiyah. Mau dikemanakan para sahabat nabi yang mati demi membela Islam dan keluarga Nabi saw? Bagi Syiah sahabat Nabi saw ada yang baik dan ada juga yang buruk. Mereka yang buruk tidak perlu diikuti. Syiah tidak sekedar menuduh jelek seorang sahabat tapi mempunyai bukti valid atas keburukan sahabat tersebut. . Syiah pembohong, pendusta karena Syiah menganut doktrin taqiyah. Begitulah yang sering dilontarkan oleh pembenci Syiah. Demikian lekatnya doktrin taqiyah pada golongan Syiah dan tuduhan jeleknya sampai-sampai ada guyonan tentang taqiyah golongan Syiah di dunia maya.[7] . Tapi, bagaimana kalau anda ditempatkan pada posisi Syiah. Anda akan dibunuh jika mengungkapkan keyakinan anda yang sebenarnya, apa yang akan anda lakukan? Begitulah awal mula taqiyah sebenarnya. Begitulah tindakan Ammar bin Yasir menghadapi siksaan kaum Quraisy. Begitulah tindakan penganut Syiah selama kurang lebih seabad di masa kerajaan Umayyah. Mereka dibatasi gerakannya, diburu, dan dibunuh bila ketahuan mengikuti jejak Ahli Bait. Bahkan Hasan al-Basri pun dalam meriwayatkan hadis dari Ali as, tidak menyebutkan namanya dalam periwayatan karena kondisi waktu itu yang tidak memungkinkan. Jika demikian apa anda setuju taqiyah? . Anda menyamakan mut’ah dengan zina, maka anda salah besar. Ibnu Abbas sampai buta mata dan wafat pun tidak pernah melarang mut’ah atau mencabut pendapatnya tersebut. Karena itulah murid-murid Ibnu Abbas meneruskan pendapatnya. Di antara mereka adalah Ibnu Juraij, Said bin Jubair, Atha’, Mujahid, bahkan ada pula riwayat yang menyebutkan bahwa Imam Malik membolehkan nikah Mut’ah. Jika Syiah meyakini mut’ah masih diperbolehkan, apakah anda akan memprotes? Toh, menurut Syiah mut’ah tetap diperbolehkan Nabi saw dan yang melarang adalah Umar di masa kekhalifahannya dan riwayat tersebut ada di kitab-kitab golongan Sunni dan Syiah.[8] . Semua poin-poin di atas, baik tuduhan Sunni atau bantahan Syiah terus saja diulang-ulang sepanjang sejarah Islam, namun semuanya hanya sekedar tulisan tanpa ada upaya untuk menjaga kedamaian ukhuwah islamiyah seakan-akan ada pihak-pihak luar dan dalam yang sengaja menjaga kestabilan perpecahan umat muslim. Akhirnya semua itu berpulang ke dalam diri anda. seorang hakim harus mendengarkan dua pihak yang bersengketa baru memutuskan masalahnya, bukan langsung justifikasi tanpa bertabayun terlebih dahulu. Bukan sekedar cukup menjadi juru dakwah, pemimpin majelis dengan jutaan pengikut, atau tukang khutbah mingguan untuk dapat menjustifikasi sekelompok orang menjadi sesat, kafir dan musyrik, diperlukan sikap yang arif, objektif, ilmiah dan berlaku adil dalam menanggapi saudara sesama muslim yang berbeda pandangan dengan kita. . “Tidaklah seseorang melemparkan tuduhan kepada yang lain dengan kefasikan, dan tidak pula melemparkan tuduhan kepada yang lain dengan kekafiran, melainkan hal itu akan kembali kepadanya apabila yang dituduh ternyata tidak demikian”. Wa Allah a’laam. Salam damai, . [1] Dibanding dengan kakeknya, Gus Dur begitu dekat dengan golongan Syiah. Ketika terjadi revolusi Iran, Gus Dur mengatakan “Khumayni waliyullah terbesar abad ini” yang menimbulkan kontroversi di kalangan NU, bahkan dalam sebuah diskusi Gus Dur juga mempersilakan warga NU untuk masuk ke madzhab Syi’ah. Sedang Hasyim Asy’ari menyindir’ Syiah dalam Muqadimah Qanun Asasi Nahdlatul Ulama menyebutkan “Sampaikan secara terang-terangan apa yang diperintahkan Allah kepadamu, agar bid’ah-bid’ah terberantas dari semua orang. Rasulullah SAW bersabda “Apabila fitnah-fitnah dan bid’ah-bid’ah muncul dan sahabat-sahabatku di caci maki, maka hendaklah orang-orang alim menampilkan ilmunya. Barang siapa tidak berbuat begitu, maka dia akan terkena laknat Allah, laknat malaikat dan semua orang.” Bahkan beliau juga melarang santri-santrinya membaca kitab-kitab Syiah, seperti Naylul Authar, Subulus Salam. Perbedaan pandangan tersebut merupakan sesuatu yang galib dalam dunia keilmuan. Imam Ja’far al-Sadiq as mempunyai murid Imam Hanafi yang membuat madzhab sendiri, Imam Malik juga mempunyai murid Imam Syafii, yang mempunyai pendapat berbeda dengan gurunya, bahkan konon gara-gara perbedaan dengan gurunya tersebut Imam Syafi’i meninggal dipukul oleh pengikut Maliki. Said Aqil Siradj yang lulusan pendidikan Saudi pun menjadi pembela Syiah, padahal Saudi secara politik dan budaya menganut faham Wahabi yang jelas-jelas menolak bahkan mengkafirkan Syiah. Pendapat KH. Ahmad Dahlan juga berbeda dengan pendapat majelis tarjih Muhammadiyah sesudahnya, beliau memakai qunut subuh, tarawih 20 rakaat, mengucap usholi dalam niat shalat, dll . [2] Bahwa upacara peringatan orang mati/tahlil pada hari ke-3, ke-7, ke-40, ke-100, dan ke-1000, termasuk khaul, adalah tradisi khas yang jelas-jelas terpengaruh faham Syiah. Dalam tahlil dimulai dengan bacaan al-Fatihah kepada Nabi saw dan roh-roh si mati. Amalan ini menjadi tradisi penganut Syiah dari zaman ke zaman. Dalam tahlil juga dibacakan ayat 33 dari surah al-Ahzab yang diyakini oleh golongan Syiah sebagai bukti keturunan Ali dan Fatimah adalah maksum. Demikian juga dengan perayaan 1 dan 10 Syuro dengan penanda bubur Syuro, tradisi Rebo Wekasan atau Arba’a Akhir di bulan Safar, tradisi Nisfu Sya’ban, larangan berhajat pada bulan Syuro, pembacaan kasidah-kasidah yang memuji Nabi Muhammad Saw dan ahl al-bait, dan wirid-wirid yang diamalkan menunjukkan keterkaitan tersebut. Bahkan istilah kenduri pun, jelas menunjuk kepada pengaruh Syiah karena dipungut dari bahasa Persia Kanduri, yakni upacara makan-makan di Persia untuk memperingati Fatimah Az-Zahro’ . [3] Di antara kitab yang terbukti ditahrif adalah Nahj al-Balaghah yang diterbitkan oleh Muhammad Abduh Mesir, kitab-kitab al-Khumayni, seperti Hukumah Islam, Kasyful Asrar yang diterjemahkan menyimpang dari bahasa Persia ke Inggris/Arab. Pemalsuan kitab Kasyful Asrar dibongkar oleh Dr. Ibrahim Dasuki Syata, pengajar bahasa dan sastra dari Universitas Kairo. Pemalsuan kitab Hukumah Islam diduga dilakukan penerbit buku milik CIA ke dalam bahasa Inggris . [4] Riwayat-riwayat tahrif al-Quran, baik dari kalangan sahabat maupun ulama besar, beredar di kitab-kitab Sunni dan Syiah. Di antara yang berpendapat al-Quran berubah adalah Imam Malik, beliau berkata tentang sebab gugurnya basmalah pada pembukaan surah Barâ’ah, “Sesungguhnya ketika bagian awalnya gugur/hilang maka gugur pulalah basmalahnya. Dan telah tetap bahwa ia sebenarnya menandingi surah al-Baqarah dalam panjangnya” . [5] Ibn Anbari dan al-Qurthubi menutupi identitas tokoh ini dalam kitabnya. Namun al-Khatib al-Baghdadi dan Abu Syamah menyebut jelas tokoh besar Sunni ini. Nama lengkapnya Abu al Hasan Muhammad ibn Ahmad ibn Ayyub al Muqri’/pakar qira’at, yang dikenal dengan nama Ibnu Syanbûdz/Syannabûdz al-Baghdâdi H. Ia banyak belajar dan menimba ilmu qira’at dari banyak pakar di berbagai kota besar Islam. Ia telah berkeliling ke hampir seluruh penjuru negeri Islam untuk menimba ilmu dari para masyâikh, dan ahli qira’at. . Ia sezaman dan satu thabaqah dengan Ibnu Mujahid yang membatasi qira’at hanya pada 7 qira’at saja, tetapi ia lebih luas ilmu dan pengetahuannya, khususnya tentang qira’at dan sumber-sumbernya, dan ia lebih banyak guru dan masyâikhnya, hanya saja Ibnu Majahid lebih berkedudukan di sisi penguasa saat itu. Banyak kalangan ulama qira’at belajar darinya. Abu Amr ad Dâni dan lainnya mengandalkan sanad qira’at melalui jalurnya. Ibnu Syannabûdz adalah tsiqah/terpercaya, seorang yang shaleh, konsisten dalam menjalankan agama dan pakar dalam disiplin ilmu qira’at. Ia meremehkan Ibnu Mujahid yang tidak pernah melancong ke berbagai negeri untuk menimba ilmu qira’at. Apabila ada seorang murid datang untuk belajar darinya, ia menanyainya terlebih dahulu, apakah ia pernah belajar dari Ibnu Mujahid? . Jika pernah maka ia tidak akan mau mengajarinya. Ibnu Mujahid menyimpan dendam kepadanya, dan menfitnahnya kepada al wazîr/penguasa saat itu yang bernama Ibnu Muqlah. Ibnu Syannabûdz diadili pengguasa di hadapan para ulama dan ahli fikih, di antaranya Ibnu Mujahid atas qira’atnya yang dinilai menyimpang, setelah terjadi perdebatan seru dengan mereka. Ibnu Muqlah memintanya untuk menghentikan kebiasaannya membaca qira’at yang syâdzdzah, tetapi ia bersikeras mempertahankannya, dan berbicara keras kepadanya dan kepada Ibnu Mujahid serta al Qadhi yang dikatakannya sebagai kurang luas pengetahuan mereka berdua, sehingga Ibnu Muqlah menderanya dengan beberapa cambukan di punggungnya yang memaksanya mengakui kesalahannya dan bersedia menghentikan bacaan syâdzdzah-nya. . Ketika Ibnu Muqlah menderanya, Ibnu Syannabûdz mendoakannya agar Allah memotong tangannya dan mencerai-beraikan urusannya. Tidak lama kemudian, setelah tiga tahun, tepatnya pada pertengahan bulan Syawal tahun 326 H, doa itu diperkenankan Allah dan Ibnu Muqlah pun dipotong tangannya oleh atasannya dan dipenjarakan serta dipersulit kehidupannya. Ia hidup terhina dan mati dalam sel tahanan pada tahun 328 H, tahun yang sama dengan tahun wafatnya Ibnu Syannabûdz. Sebagaimana Ibnu Mujahid juga mati setahun setelah mengadili Ibnu Syannabûdz . [6] Al-Dzahabi berkata, “Omongan sesama teman jika terbukti dilontarkan dengan dorongan hawa nafsu atau fanatisme maka ia tidak perlu dihiraukan. Ia harus ditutup dan tidak diriwayatkan, sebagaimana telah ditetapkan bahwa harus menutup-nutupi persengketaan yang terjadi antara para sahabat ra. Dan kita senantiasa melewati hal itu dalam kitab-kitab induk dan juz-juz akan tetapi kebanyakan darinya adalah terputus sanadnya dan dha’if dan sebagian lainnya palsu. Dan ia yang ada di tangan kita dan di tangan para ulama kita. Semua itu harus dilipat dan disembunyikan bahkan harus dimusnahkan. Dan harus diramaikan kecintaan kepada para sahabat dan mendo’akan agar mereka diridhai Allah, dan merahasiakan hal itu bukti-bukti persengketaan mereka itu dari kaum awam dan individu ulama adalah sebuah kawajiban. Dan mungkin diizinkan bagi sebagian orang ulama yang obyektif dan jauh dari hawa nafsu untuk mempelajarinya secara rahasia dengan syarat ia memintakan ampunan bagi mereka para sahabat seperti diajarkan Allah . [7] Kisah Laporan “Spy” Wahabi Tentang Iran. Pada suatu hari, agen wahabi mengutus seorang untuk “spy” semua gerak-geri orang syiah, terutama di Iran, maka diutuslah seorang agen A untuk memulai misi ke Iran. Setelah tiga bulan lamanya sang agen kembali untuk melaporkan hasil mata-matanya. . [8] Quraisy Shihab memandang bahwa 1. Para ulama berbeda pendapat mengenai apakah benar Nabi saw pernah mengharamkan nikah mut’ah itu; 2. Larangan Umar bin Khattab terhadap nikah mut’ah bukan pengharaman suatu syariat, tetapi demi menjaga kemaslahatan umat kala itu. 3. Pendapat yang kompromistis ialah pendapat Syekh Muhammad Thahir bin Asyur, mufti Tunisia yang mengatakan bahwa Nabi SAW dua kali mengizinkan nikah mut’ah dan dua kali melarangnya. Larangan ini bukan pembatalan, tetapi penyesuaian dengan kondisi, kebutuhan yang mendesak atau darurat. Maka nikah mut’ah itu hanya diperbolehkan dalam keadaan darurat, seperti bepergian jauh atau perang dan tidak membawa istri. Kairo . KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur pernah menimba ilmu di Universitas Al-Azhar pada tahun 1964-1966. Banyak kesan dan cerita menarik tentang Gus Dur selama di Mesir ini sehingga sampai sekarang ia menjadi icon kebanggaan bagi mahasiswa Indonesia yang sedang menimba ilmu di Al-Azhar khususnya, warga NU Nahdliyyin. “Ketokohan Gus Dur dan pada masa lalunya di Azhar mampu menjadi sumber inspirasi mahasiswa,” kata M. Jauharul Afif, anggota LDNU Mesir saat memberikan keterangan seusai acara peringatan 40 hari atas meninggalnya Gus Dur di Sekretariat PCINU Mesir, Selasa 9/2 malam. Selama belajar di Al-Azhar tersebut, Gus Dur tinggal di asrama Bu’uts. Gus Dur sekalipun hanya dua tahun berada di Mesir, namun bagi banyak orang, ia adalah seorang yang berani mempraktikkan semboyan bahwa mencari ilmu tidak cukup di bangku kuliah saja. Hal ini terbukti bahwa selama Gus Dur belajar di Mesir banyak menghabiskan waktuya di perpustakaan untuk membaca buku dan mendalami segala disiplin ilmu. Hal ini juga pernah diutarakan oleh Ir H Iqbal Sullam, Wasekjen PBNU pada sambutannya setahun yang lalu ketika beliau melakukan kunjungan ke Mesir. Peringatan 40 hari Gus Dur itu diisi dengan pembacaan surah Yasin dan Tahlil yang dalam hal ini dipimpin oleh Itho’ Athoillah, mahasiswa Al-Azhar asal Tebuireng Jombang dan do’a dipimpin oleh H Subhan Malik, mahasiswa asal Tambak Beras Jombang. Selain acara tersebut, juga dilaksanakan shalat ghaib atas meninggalnya KH Ahamad Hafidz Ahmad, pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, putra dari KH Ahmad Bisri yang juga masih sepupu Gus Dur. Selain PCINU Mesir, Ikatan Alumni Tebuireng yang berada di Mesir pada malam sebelumnya juga melaksanakan kegiatan yang sama bertempat di sekretariat Tebuireng Center TC dan mengundang seluruh anggota alumni almamater pesantren berbasis NU yang berada di Mesir. Sebagian sikap dan pemikiran Gus Dur mendapat apresiasi dari beberapa ulama Syiah Indonesia. “Gus Dur selalu menganjurkan kebaikan kepada kelompok minoritas, termasuk kita yang berpegang pada madzhab Ahlul Bait, Syiah. Kita merasa dibela Gus Dur dari beberapa kelompok yang akan membubarkan Syiah. Gus Dur juga selalu mengatakan bahwa Syiah itu adalah NU plus imamah dan NU itu adalah Syiah minus imamah. Bahkan beliau orang yang pertama di Indonesia yang bukan Syiah yang menggelar peringatan Asyura di Ciganjur,” kata salah seorang ulama Syiah Indonesia, Hasan Dalil . Namun satu hal yang menarik dari Gus Dur, kata Hasan Dalil, tidak pernah marah dan tersinggung jika dikritik. Hasan Dalil pun punya kesan pribadi dengan Gus Dur. “Kita ulama Syiah datang pada beliau. Saya sebutkan pada beliau di kalangan atas elit dan intelektual, sudah memahami madzhab Ahlul Bait dan menghormati Ayatullah Imam Khomaini. Namun di kalangan sebagian NU di bawah ada yang masih berlaku keras pada kelompok Syiah. Saya contohkan peristiwa di Bangil. Ternyata Gus Dur langsung menelpon ulama NU Bangil dan memerintahkan untuk menjaga kelompok syiah dan mencegah segala bentuk kekerasan. Ini luar biasa,” kata Hasan Dalil
› Opini›Gus Dur, Gus Yahya, dan Fikih ... Fikih siyasah peradaban telah memancing kembali suatu pemikiran teologi yang mendasar dalam Islam, yaitu posisi manusia setara di depan manusia lain dan hukum, bukan hanya di depan Tuhan. HERYUNANTOIlustrasiSejak meninggalnya Gus Dur di akhir Desember 13 tahun yang lalu 30 Desember 2009, tahun-tahun berikutnya, sebulan sebelum dan sesudah Desember selalu ramai dengan haul Gus Dur secara berkesinambungan oleh berbagai komunitas, bukan hanya NU dan pesantren, melainkan juga kelompok agama-agama, kepercayaan lokal, kesenian, dan Dur memang memberikan inspirasi yang sangat dalam bagi para pemeluk agama-agama dan kepercayaan dalam membangun dialog dan harmoni. Ramainya haul Gus Dur selama tiga bulan tersebut tidak pelak menandai rindu masyarakat akan dialog dan harmoni tersebut yang lengket dengan ketokohan Gus Dur. Agar kita tidak hanya mengingat dan berharap melainkan mengembangkan dan mempertajam lebih jauh kiprah yang telah dilakukan Gus Dur, ada baiknya kita melihat lebih dalam apa yang dilakukan oleh PBNU di bawah KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya saat ini. Gus Yahya menyatakan sebagai pelanjut Gus Dur, termasuk dalam memperkokoh kesetaraan manusia dan warga negara yang berbasis pada agama atau teologi juga Gus Dur dan Problem Bangsa KitaGus Dur telah membangun fondasi keislaman bagi nasionalisme, kesetaraan manusia, dan kewargangaraan Indonesia meskipun harus berhadapn dengan rezim keyakinan dan kekuasaan yang kukuh yang ditopang oleh basis teologi Islam yang mapan. Hingga kini sebagian, jika tidak sebagian besar, imajinasi umat Islam yang tertanam adalah suatu ”kawin paksa” antara negara-bangsa yang menuntut kesetaraan mutlak di antara warga negara dengan parokialisme-keumatan yang mengedepankan identitas keagamaan tertentu. Sebagian, jika tidak sebagian besar, negara-negara di Asia dan Afrika yang memiliki basis kuat agama masih melandaskan pada parokialisme agama mungkin pengecualian, setidaknya secara konstitusional dan formal. Negara yang tidak mengidentikkan diri dengan agama dan etnis mayoritas ataupun minoritas tertentu dalam konstitusi dan filosofi Pancasila serta semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Masalahnya, apakah hal itu sudah menjadi kesadaran bersama bagi seluruh warga bangsa dan kelompok agama-agama serta diimplementasikan dalam kenyataan dan kebijakan publik pemerintah?DIDIE SWIlustrasi Gus DurPilihan politikKata moderasi, harmoni, toleransi, dan wasatiyah dalam pespektif ini sesungguhnya cara menghindari tabrakan secara langsung dalam ”kawin paksa” tersebut untuk tidak menjadi aktual namun tidak menyelesaikannya. Kata-kata tersebut juga mengandung pemakluman dan basa-basi terhadap ide-ide dasar akan diskriminasi dan kokohnya identitas agama dalam politik bagi kelompok tertentu. Kata-kata itu, bagi Gus Yahya, misalnya, belum menunjukkan pilihan politik yang jelas atas paham agama tentang kesetaraan mutlak begi kemanusiaan dan politik dalam beragama itulah tampaknya yang hendak disasar oleh Gus Yahya dalam kiprah lebih lanjut tentang hubungan dan dialog antaragama. Dengan kata lain, kemanusiaan dan kewarganegaraan harus menjadi dasar bagi pengembangan ide-ide keagamaan Islam kini dan ke depan, atau beliau menamakannya, fikih siyasah dan kewarganegaraan harus menjadi dasar bagi pengembangan ide-ide keagamaan Islam kini dan ke depan, atau beliau menamakannya, fikih siyasah demikian, fikih siyasah peradaban hendak menuntaskan konsep mendasar Islam tentang kemanusiaan dan kewarganegaraan tersebut, lepas dari pengembangan metodologi kajian dan praktik Islam apapun, kemanusian dan kewarganegaraan harus menjadi landasan utama. Dengan kata lain, seluruh pergulatan dan proses pemikrian dan praktik fikih harus dilandasarkan kepada hamparan kenyataan akan tuntutan kesetaraan sudut tertentu yang paling mendasar, Gus Yahya hendak membawa kembali gerbong fikih sebagai pengetahuan knowledge yang luas ke dalam belantara keilmuan mutakhir serta benturan kekinian dalam situasi nyata tentang pergolakan dan menguatnya sentimen keagamaan, polarisasi sosial, serta identitas keagamaan yang sering menjadi senjata politik dalam konflik dan perang. Kemudian, menjadikannya jalan dan muktamar fikih peradabanLebih dari itu, dari kegiatan Forum Agama G20 R20 yang diinisiasi oleh PBNU bekerja sama dengan Rabithah Alam Islamy, sebuah pertemuan para agamawan secara global di awal November lalu, telah didorong terjadinya semacam konsensus global agama-agama tentang penghapusan doktrin-doktrin setiap agama yang selama ini menjadi acuan dan landasan bagi maraknya sentimen agama, polarisasi sosial, dan menguatnya identitas politik yang berlebihan. Selanjutnya di puncak acara peringatan satu abad NU di awal Feburari tahun depan hendak dikukuhkan melalui pertemuan yang juga bersifat internasional antar para ulama Islam, yaitu muktamar fikih bagian dari peta jalan roadmapperubahan tersebut, muktamar fikih peradaban dipersiapkan secara cukup matang didahului dengan penyelenggaraan berbagai halaqoh seminar di pesantren-pesantren di seluruh Indonesia. Sejak Agustus 2022 hingga Januari 2023 diselenggarakan sebanyak 250 kali dengan 150-200 peserta setiap halaqoh dari Sabang hingga Meraoke. Ada empat topik yang dibahas dalam halaqoh tersebut, yaitu fikih siyasah negara-bangsa, fikih kewarganegaraan, fikih minoritas, dan fikih tata dunia juga Fikih Moderasi BeragamaMutamar fikih peradaban akan menjadi ajang terbangunnya semacam konsensus baru bagi masyarakat Muslim dunia tentang suatu tata dunia baru yang berintikan kesetaraan mutlak bagi manusia dan warga negara yang didasarkan kepada teologi atau fikih Islam. Meskipun masih harus dikonseptualisasikan lebih lanjut tentang dua konsensus tersebut, jika dilihat dari visi dan motiviasi KH Yahya Cholil Staquf, Ketua Umum PBNU, penggagas kedua hajatan global tersebut, akan berujung kepada penghapusan dan menghentian penggunaan doktrin-doktrin utama agama-agama bukan hanya Islam yang selama ini menjadi basis bagi terbangunnya identitas politik dan kekuasaan yang mengundang ketegangan dan perang. Sisi lain dari tata dunia baru, dengan kata lain, adalah menjadikan agama sebagai landasan bagi kesetaraan manusia dan warga negara ini sekaligus menjawab kritik dari para ilmuwan dan filosof modern terhadap Islam terutama Aswaja yang dianggap telah berhenti pemikiran teologi pasca Imam Asy’ari sebagai penengah antara Muktazilah yang berbasis akal dan Jabariyah yang berbasis naql atau dalil teks suci. Fikih siyasah peradaban telah memancing kembali suatu pemikiran teologi yang mendasar dalam Islam, yaitu posisi manusia setara di depan manusia lain dan hukum, bukan hanya di depan Tuhan. Suatu pencarian baru konsep dan praktik keadilan global serta sumbangan Islam atasnya. Tidak mudah bukan?Ahmad Suaedy, Dekan Fakultas Islam Nusantara, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, JakartaDOKUMENTASI PRIBADIAhmad Suaedy
Pasuruan, NU Online Ratusan umat Islam Syiah melaksanakan tahlil khusus untuk almarhum KH Abdurrahman Wahid di Masjid Astsaqolain Yayasan Pesantren Islam YAPI Kenep, Beji, Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu. Pengajar Pesantren YAPI, Ustadz Segaf Assegaf menjelaskan, tahlil khusus tersebut untuk menghormati KH Abdurrahman Wahid sebagai tokoh pluralis yang tidak membeda-bedakan kelompok. Dia menyebutkan, meski Gus Dur tidak pernah mendatangi Pesantren YAPi di Bangil, umat islam Syiah merasa telah dibelanya. Ustadz Segaf mengatakan, sewaktu umat Islam Syiah dituduh mempunyai Alquran berbeda dari umat Islam lainnya, Gus Durlah yang melakukan klarifikasi bahwa Al Quran umat Syiah sama dengan Alquran umat Islam lainnya. Ustadz Segaf juga mengungkapkan, pemikiran-pemikiran Gus Dur juga sangat pas dengan pendapat-pendapat Islam Syiah, sedangkan perbedaan-perbedaan selama ini hanya keniscayaan semata. Ia menjelaskan, umat Islam Syiah di Bangil selama ini juga secara rutin melaksanakan, tahlil, khaul, serta peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kepala YAPI Bangil, Ustadz Abdul Mukmin menjelaskan, Yayasan Pesantrean Islam YAPI Bangil pada awalnya berdiri di kawasan Kancil Mas Bangil sekitar tahun 1974. YAPI Bangil sebelumnya berada di Bondowoso. Namun pada tahun 1985 YAPI Bangil pindah ke Kenep, Beji, untuk santri putranya. Sedangkan santri putrinya masih berada di Kota Bangil. Jumlah santri YAPI sebanyak 315 santri putra, dan 240 santri putri yang datang dari berbagai kota di Indonesia. Sementara YAPI hanya ada di Bangil, tidak membuka cabang di kota lain. Sistem pendidikannya mulai jenjang SMP hingga SMA serta Hauzah khusus agama Islam. ant/mad
gus dur tentang syiah